Sebentar lagi adalah bulannya bersinar bagi para sagitarius ,
Desember ...memasuki masa ini sagitarius akan mendapatkan banyak
keberuntungan, dari masalah cinta, ekonomi, dan rumah tangga, namun
anda sebaiknya jangan bersuka cita terlebih dahulu, karena di
penghujung bulan anda akan mendapat sedikit gangguan pada lambung anda,
jangan lupa juga ginjal anda, karena di akhir bulan desember ini
gangguan pada fungsi organ tersebut meningkat ...
Astrologi Dalam Islam
Tunggu
dulu! Jangan terburu-buru saudara menyangka saya mengetahui masa depan
dan aktivitas saudara terutama bagi saudara yang terlahir konon sebagai
bintang sagitarius. Akan tetapi kalimat di atas adalah secuplik kalimat
ramalan astrolog yang kami ambil dari sebuah koran ternama dalam rubrik
perbintangan.
Dilihat dari nama rubriknya, dapat diketahui
bahwa dasar pemikiran para astrolog atau yang sejalan pemikirannya
dengan mereka adalah letak dan konfigurasi bintang-bintang di langit.
Misalnya, bila letak gugusan bintang Bima Sakti di arah A lalu kebetulan
ada seorang bayi lahir tepat pada malam ketika bintang itu terbit maka
diramalkan bayi itu akan menjadi orang terkenal setelah besar nanti.
Apabila
kita perhatikan ramalan di atas, akan terlihat bahwa si peramal mencoba
atau seolah olah mengetahui hal-hal ghaib. Seakan ia mampu membaca dan
menentukan nasib seseorang. Dengan dasar ini ia memerintah dan melarang
pasiennya untuk berbuat sesuatu. Bahkan ia sering menakut-nakutinya
meskipun akhirnya memberi kabar gembira atau hiburan dengan kata-kata
manis. Bagi orang yang senang akan rubrik seperti tersebut di atas atau
yang suka
membaca buku-buku astrologi (ramalan-ramalan bohong)
terkadang ramalan itu cocok dengan keadaan yang di alami. Namun yang
menjadi permasalahan, darimana pikiran peramal itu mencuat? Bagaimana
pandangan Islam terhadap masalah ini?
Sesungguhnya
perkara-perkara ghaib hanyalah Allah yang mengetahui. Dan ini adalah hak
prerogatif Allah semata, selain makhluk yang Ia beritahukan tentangnya,
seperti sebagian Malaikat dan para Rasul sebagai mukjizat. Dalam hal
ini, Allah berfirman : “(Dia adalah Rabb) Yang mengetahui yang ghaib.
Maka Dia tidak memperlihatkan kepada
seseorang pun tentang yang
ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridlai-Nya. Maka sesungguhnya Dia
mengadakan penjaga-penjaga (Malaikat) di muka bumi dan di belakangnya.”
(QS. Al Jin : 26-27)
Barangsiapa mengaku mengetahui
perkara atau ilmu ghaib selain orang yang dikecualikan sebagaimana ayat
di atas, maka ia telah kafir. Baik mengetahuinya dengan perantaraan
membaca garis-garis tangan, di dalam gelas, perdukunan, sihir, dan ilmu
perbintangan atau selain itu. Yang terakhir ini yang biasa dilakukan
oleh paranormal. Bila ada orang sakit bertanya kepadanya tentang sebab
sakitnya maka akan dijawab : “Saudara sakit karena perbuatan orang yang
tidak suka kepada saudara.” Darimana dia tahu bahwa penyebab sakitnya
adalah dari perbuatan seseorang, sementara tidak ada bukti-bukti yang
kuat sebagai dasar tuduhannya?
Sebenarnya hal ini tidak
lain adalah karena bantuan jin dan para syaithan. Mereka menampakkan
kepada khalayak dengan cara-cara di atas (melihat letak bintang,
misalnya) hanyalah tipuan belaka.
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah berkata : “Para dukun dan yang sejenis dengan mereka
sebenarnya mempunyai pembantu atau pendamping (qarin) dari kalangan
syaithan yang mengabarkan perkara-perkara ghaib yang dicuri dari langit.
Kemudian para dukun itu menyampaikan berita tersebut dengan tambahan
kedustaan. Di antara mereka ada yang
mendatangi syaithan dengan
membawa makanan, buah-buahan, dan lain-lain (untuk dipersembahkan) … .
Dengan bantuan jin, mereka ada yang dapat terbang ke Makkah atau Baitul
Maqdis atau tempat lainnya.” (Kitabut Tauhid, Syaikh Fauzan halaman 25)
Sungguh
benar kabar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengenai syaithan
yang mencuri berita dari langit. Diceritakan dalam sebuah hadits :
Tatkala Allah memutuskan perkara di langit, para Malaikat mengepakkan
sayap, mereka merasa tunduk dengan firman-Nya, seolah-olah kepakan sayap
itu bunyi gemerincing rantai di atas batu besar. Ketika telah hilang
rasa takut, mereka saling bertanya : “Apakah yang dikatakan Rabbmu? Dia
berkata tentang kebenaran dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Lalu
firman Allah itu didengar oleh pencuri berita langit. Para pencuri
berita itu saling memanggul (untuk sampai di langit), lalu melemparkan
hasil curiannya itu kepada teman di bawahnya. (HR. Bukhari dari Abi
Hurairah radliyallahu 'anhu)
Seorang dukun atau paranormal
yang memberitakan perkara-perkara ghaib sebenarnya menerima kabar dari
syaithan itu dengan jalan melihat letak bintang untuk menentukan atau
mengetahui peristiwa-peristiwa di bumi, seperti letak benda yang hilang,
nasib seseorang, perubahan musim, dan lain-lain. Inilah yang biasa
disebut ilmu perbintangan atau tanjim.
Sebagaimana sabda
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “ … Kemudian melemparkan
benda itu kepada orang yang di bawahnya sampai akhirnya kepada dukun
atau tukang sihir. Terkadang setan itu terkena panah bintang sebelum
menyerahkan berita dan terkadang berhasil. Lalu setan itu menambah
berita itu dengan seratus kedustaan.” (HR. Bukhari dari Abi Hurairah
radliyallahu 'anhu)
Meskipun demikian, masih banyak orang
yang mempercayai dan mau mendatangi peramal atau astrolog atau para
dukun, bukan saja dari kalangan orang yang berpendidikan dan ekonomi
rendahan bahkan dari orang-orang yang berpendidikan dan berstatus sosial
tinggi. Perbuatan orang yang mendatangi atau yang didatangi dalam hal
ini para dukun sama-sama mendapatkan dosa dan ancaman keras dari Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berupa dosa syirik dan tidak diterima
shalatnya selama 40 malam.
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam bersabda : “Barangsiapa yang mendatangi dukun dan menanyakan
tentang sesuatu lalu membenarkannya, maka tidak diterima shalatnya 40
malam.” (HR. Muslim dari sebagian istri Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam)
Pada kesempatan lain, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam juga mengancam mereka tergolong orang-orang yang ingkar (kufur)
dengan apa yang dibawa beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
“Barangsiapa yang mendatangi dukun (peramal) dan membenarkan apa yang
dikatakannya, sungguh ia telah ingkar (kufur) dengan apa yang dibawa
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.” (HR. Abu Dawud)
Ancaman
dalam hadits di atas berlaku untuk yang mendatangi dan menanyakan, baik
membenarkan atau tidak. (Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh 1979)
Tujuan Penciptaan Bintang-Bintang
Alam
dan segala isinya diciptakan dengan hikmah karena diciptakan oleh Dzat
yang memiliki sifat Maha Memberi Hikmah dan Maha Mengetahui. Dia Maha
Mengetahui apa yang di depan dan di balik ciptaan-Nya. Sehingga mustahil
Allah mencipta makhluk dengan main-main. Sebab itu, kewajiban atas
makhluk-Nya ialah tunduk dan menerima berita, perintah, dan
larangan-Nya. Sebagai contoh, yang berhubungan dengan pembahasan kali
ini ialah penciptaan bintang bintang di langit.
Allah
Subhanahu wa Ta'ala memberitakan bahwa penciptaan bintang-bintang itu
ialah untuk penerang, hiasan langit, penunjuk jalan, dan pelempar setan
yang mencuri wahyu yang sedang diucapkan di hadapan para malaikat.
Sebagaimana Dia firmankan : “Dan sungguh, Kami telah menghiasi langit
yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami
jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan.” (QS. Al Mulk : 5)
Dalam
kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala
menciptakan bintang-bintang itu untuk tujuan sebagai hiasan langit, alat
pelempar setan, dan rambu-rambu jalan. Maka barangsiapa
mempergunakannya untuk selain tujuan itu, sungguh terjerumus ke dalam
kesalahan, kehilangan bagian akhiratnya, dan terbebani dengan satu hal
yang tak diketahuinya. (Perkataan dalam kitab Shahih Bukhari di atas
adalah ucapan Qatadah rahimahullah)
Hukum Mempelajari Ilmu Falak
Para
ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum mempelajari ilmu
perbintangan atau ilmu falak (astrologi). Qatadah rahimahullah (seorang
tabi’in) dan Sufyan bin Uyainah (seorang ulama hadits, wafat pada tahun
198 H) mengharamkan secara mutlak mempelajari ilmu falak. Sedangkan Imam
Ahmad dan Ishaq rahimahullah memperbolehkan dengan syarat tertentu.
Menurut
Syaikh Muhammad bin Abdil Aziz As Sulaiman Al Qarawi --yang berusaha
mengkompromikan perbedaan pendapat para ulama di atas-- bahwa
mempelajarinya adalah :
Pertama, kafir bila meyakini bintang-bintang itu sendiri yang mempengaruhi segala aktivitas makhluk di bumi. Ini yang pertama.
Kedua,
mempelajarinya untuk menentukan kejadian-kejadian yang ada, akan tetapi
semua itu diyakini karena takdir dan kehendak-Nya. Maka yang kedua ini
hukumnya haram.
Ketiga, mempelajarinya untuk mengetahui arah kiblat, penunjuk jalan, waktu, menurut jumhur ulama hal ini diperbolehkan (jaiz).
Dari
uraian di atas dapat diketahui bahwa mengaku mengetahui ilmu ghaib
menyebabkan pelakunya kafir. Sedangkan mendatangi dukun dan bertanya
kepadanya, hukumnya haram, baik ia membenarkan atau tidak. Dan yang
disebut dukun sekarang ini banyak julukannya. Kadang ia disebut orang
pintar atau paranormal, astrolog, fortuneteller, atau yang lainnya.
Walaupun begitu, hakikatnya sama saja. Penggunaan julukan yang
berbeda-beda hanyalah sebagai pelaris dagangan saja (atau agar terkesan
tidak ketinggalan jaman). Hal ini karena mempelajari ilmu falak yang
ditujukan untuk meramal nasib atau mengaku mengetahui ilmu ghaib
merupakan tindakan kekufuran. Tujuan penciptaan bintang adalah
sebagaimana yang telah diterangkan Allah dan para ulama, bukan untuk
mengetahui perkara ghaib seperti yang diyakini oleh sebagian besar
astrolog. Ayat yang mengatakan : “Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda
(penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka (mendapat
petunjuk).” (QS. An Nahl : 16)
Maksudnya, agar manusia
mengetahui arah jalan dengan mengetahui letak bintang-bintang, bukan
untuk mengetahui perkara ghaib. Banyak hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam yang mengharamkan dan melarang mempelajari ilmu nujum
(perbintangan) dengan tujuan yang dilarang syariat, seperti hadits :
“Barangsiapa mempelajari satu cabang dari cabang ilmu nujum
(perbintangan) sungguh ia telah mempelajari satu cabang ilmu sihir … .”
(HR. Ahmad [1], Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas)
Sementara
Islam mengharamkan orang yang menyihir atau meminta sihir. Dan mengaku
mengetahui ilmu ghaib merupakan perkara yang membatalkan atau
menggugurkan tauhid dan keimanan orang karena menandingi Allah Subhanahu
wa Ta'ala dalam sifat Rububiyah. (Kitabut Tauhid, Syaikh Fauzan halaman
25)
Wallahul Musta’an.
[1] Hadits hasan, dihasankan
oleh Syaikh Ibnu Alis Sinan dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Shahihul Jami’ nomor 5950 dan dalam Ash Shahihah nomor 793.
Nah sekarang jelaskan bagaimana sebenarnya ilmu perbintangan itu ? ok ..semoga bermanfaat ya ...
Sumber: https://www.facebook.com/note.php?note_id=284681054904604
Publish: artikelassunnah.blogspot.com













0komentar:
Poskan Komentar
Silahkan berkomentar di postingan ini. Jika Anda ingin membalas komentar seseorang di postingan ini, anda bisa menggunakan fasilitas reply dengan cara mengawali komentar Anda pada baris pertama dengan:@Nama Pengkomentar atau @Kode Angka Komentar (Sering ada beberapa nick yang sama, maka Anda gunakan id komentar, id komentar berbeda setiap komentar, Klik reply untuk mengetahuinya...) Contohnya Penulisan Komentar:
@7203927038009495451.0
Artikel yang sangat mencerahkan, Syukron